Membentuk Karakter Anak Di Usia Dini

membentuk karakter anak di usia dini

membentuk karakter anak

Banyak cara untuk membentuk karakter anak menjadi pribadi yang matang kompilasi dewasa. Orang tua mungkin memilih untuk mengatur aturan baku dengan tetap mengedepankan kompromi bersama anak, namun ada juga orang tua yang lebih memilih untuk menghubungkan setiap jengkal kebiasaan memakai kompromi.

Ruby Natale PhD, PsyD, seorang profesor di bagian anak-anak Klinik Kedokteran Universitas Miami mengatakan apapun pola  pengasuhan  yang dipilih oleh orang tua, anak tidak dapat mencegah pertahanan fisik, apapun bentuknya. Dengan kata lain, orang tua tidak boleh menampar, mencubit, bahkan menolak anak, bahkan mereka berdalih itu merupakan salah satu cara mendidik anak mereka sendiri.

Menurut Ruby, perjuangan hanya akan membuat anak menjadi tidak percaya dengan orang tua jadi mereka tidak akan mau meminta segala kata orang tua. Untuk jangka panjang, perbaiki fisik sebagai cara mendidik anak membuat anak tumbuh sebagai orang yang kasar dan menerapkan cara mendidik anak yang sama dengan yang pernah dialaminya.

“Banyak orang tua yang menerapkan cara mendidik anak yang sama dengan pola pengasuhan orang tua, sebelum metode pengasuhan itu bisa dibilang kasar,” kata Ruby.

Baca Juga: 4 Gangguan Psikologis yang Sering Dialami Para Remaja

Jangan Pernah Katakan Ini Kepada Anak

Cara menggambar karakter anak yang juga bisa dilihat dari orang tua berbicara dengan anak-anak. Pemilihan kata yang dapat dibuat mental anak yang baik pula, sedangkan penggunaan kata yang buruk oleh orang tua dapat dilakukan anak tidak percaya diri.

 

membentuk karakter pada anak

  • “Kenapa kamu tidak bisa seperti dia?” Yang anak mengharapkan : “Saya lebih buruk dari orang lain. Percuma melakukan ini dan itu, tidak akan ada usaha saya yang berhasil.

Membanding-bandingkan anak sendiri dengan orang lain, termasuk teman sebayanya, bisa meminta kepercayaan diri anak meningkat drastis. Pada satu titik, ia mungkin akan menyelesaikan apa yang berhasil tidak akan berhasil. Jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam jangka panjang, anak bisa memperbaiki stres hingga depresi.

Yang mengatakan orang tua berkata : “Kamu bisa!” Jadikan orang lain sebagai motivasi untuk anak. Ibu dan ayah harus terus menyemangati anak sambil menekankan bahwa ibu akan tetap menyayanginya terlepas dari ia bisa mengerjakan sesuatu. Ingat ya, Bu, setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Jika ia tidak pandai dalam hal akademis, misalnya, mungkin bakatnya ada pada menyanyi, menari, atau bidang olahraga,jadi kita harus bisa memahami mereka dan dan bisa membentuk karakter pada anak sesuai dengan karakteristik yang mereka punya.

  • “Siapa yang mau belajar nakal seperti ini?”

Yang anak berfikir : “Ibu dan ayah tidak tahu kalau ini murni perbuatan saya.”

Anak akan berpikir bahwa ia bisa lolos dari hukuman dengan melimpahkan kesalahan kepada orang lain atas tindakan yang sebetulnya murni merupakan kenakalan pribadinya.

Yang mengatakan orang tua katakan : “Mengapa kamu suka itu?”
Beri waktu kepada anak untuk menjelaskan tindakannya. Pertanyaan terbuka ini memberikan kesempatan bagi ibu dan ayah untuk mengetahui apakah ini yang meminta persetujuan atau orang lain yang memberi persetujuan kepada anak. Setelahnya, minta anak-anak tindakan ini tidak benar dan tidak pantas untuk diulangi di masa depan.

  • Jangan serakah!

Yang anak mengingat : “Saya harus membagikan segala hal yang saya miliki. Tidak ada benda di dunia ini yang bisa milikku sendiri.

Berbagi merupakan sikap yang harus ditanamkan oleh orang tua sejak dini. Namun, para pakar pengasuh percaya bahwa anak-anak di bawah umur 4 tahun memang belum fasih memahami konsep ‘berbagi’ karena ia sudah memiliki rasa memiliki  , yakni rasa memiliki terhadap barang-barang tertentu yang menjadi miliknya.

Yang boleh orang tua katakan : “Teman kamu ini mau pinjam mainan kamu, boleh apa tidak?” atau “Ayo tukeran mainan dengan teman ini.” Dengan demikian, anak akan memiliki kesempatan untuk memproses apakah ia akan melepaskan mainan miliknya atau tidak. Jika anak memang menolak untuk dibagikan, orang tua yang menolak tidak perlu memaksakan ya

  •  “Kamu tidak akan mengerti karena masih anak-anak.”

Yang anak berfikir : “Saya benar-benar ingin tahu. Saya akan bertanya kepada orang lain.

Anak suka bertanya banyak hal, tetapi meminta hal yang tidak masuk akal. Namun, merupakan tugas orang tua untuk selalu memberikan jawaban atas pertanyaan anak tersebut. Jika tidak, ia akan meminta hal yang sama kepada orang lain dan mungkin mendapatkan jawaban dari orang yang kurang kompeten.

Yang meminta orang tua katakan : “Ibu belum tahu, nanti kita bahas sama-sama ya.”

Jangan abaikan pertanyaan anak agar tidak kehilangan kepercayaan anak. Jika memang ibu dan ayah belum menjawab, jelaskan hal itu untuk anak dan jika perlu ajak anak untuk mencari jawaban bersama-sama.

 

   Dalam bukunya yang berjudul Sepuluh Prinsip Dasar Pengasuhan Anak yang Baik , pakar  pengasuhan  Laurence Steinberg, PhD, menyatakan orang tua mungkin memiliki banyak cara untuk membuat karakter anak yang berbeda-beda. Biasanya, mereka mendasarkan pola pengasuhan kepada tujuan mendidik sang anak itu sendiri.

Apakah orang tua ingin berperan sebagai bos alias pemimpin dalam pola anak-orang tua? Ataukah orang tua ingin menanamkan rasa takut? Ataukah ingin menjadi orang tua yang disegani karena kesadaran anak itu sendiri? Dan yang terakhir, orang tua bisa memposisikan dirinya sebagai teman anak-anak agar lebih percaya diri dan mau lebih terbuka terhadap orang tua?

Apapun pilihan orang tua, cara membentuk karakter pada anak dan mendidik mereka dengan baik,selalu akan mendukung anak untuk berempati, menanamkan kejujuran, kemandirian, kontrol diri, mendukung, kerja sama, dan kebahagiaan. Cara membentuk karakter pada anak yang baik juga mendukung anak untuk mengembangkan sikap ingin tahu yang besar, motivasi, dan semangat untuk mencapai tujuan tertentu.

Di pihak lain, orang tua juga selalu melindungi anak dari pemikiran yang berlebihan, depresi, pola makan, perlindungan anti sosial, serta mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang.

Baca Juga:  Miliki Karakter Ini Kamu Akan Menjadi Seorang Wanita Idaman Para Lelaki

Cara Mendidik Anak yang Baik

 

Contohkan hal-hal baik

Ada beberapa prinsip dalam pembuatan karakter pada anak, prinsip pertama dan yang paling utama ini. Pertama, ibu dan ayah jangan lakukan hal yang tidak ingin dilakukan oleh anak. Kedua, aturan atau batasan bagi anak berarti juga aturan dan batasan untuk orang tua. Hal kedua ini akan membangun rasa hormat dan kepercayaan dalam diri anak terhadap kedua orang tuanya.

Misalnya, ibu dan ayah mengeluarkan anak untuk menonton televisi saat makan, maka ibu dan ayah juga tidak bisa menonton televisi kompilasi makan. Lakukan hal ini secara konsisten, terutama kompilasi yang sesuai dengan anak-anak.Ini adalah prinsip yang paling penting, anak selalu membuat orang tua sebagai panutan , jadi rencanakan segala sesuatu dan hasilkan dalam penerapannya.

 

Tidak ada istilah ‘terlalu sayang’

Sebagai bentuk cinta kepada anak, orang tua akan melakukan berbagai cara untuk memastikan anak-anak bahagia dan menjadi pribadi yang sukses di hari berikutnya. Bagi Steinberg, cara mendidik anak dengan rasa sayang yang besar terhadap anak seperti ini tidak salah karena memang tidak ada istilah ‘terlalu sayang untuk anak’ dalam dunia  pengasuhan anak .

Hanya saja, Steinberg mengingatkan cara menyayangi anak bukan hanya dengan menyediakan benda-benda yang diidamkan anak juga mengabulkan semua permintaannya. Bersikap tegas terhadap anak juga bisa diartikan sebagai wujud terima kasih asalkan tidak dibarengi dengan kekerasan fisik.

 

Menjadi bagian dalam hidup anak

Pepatah yang mengatakan uang layak mendidik anak yang baik, menurut Steinberg, memang ada benarnya. Anak yang membutuhkan bantuan orang tua di dalam lolos bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, memenuhi mengisi pikiran dan menerima. Misalnya, ibu mungkin tidak dapat menyelesaikan rumah matematikanya, atau menerima les matematika, ibu lengkap mendampingi dan menyemangati anak-anak untuk tidak lulus.

”Menjadi orang tua yang selalu hadir di dalam hidup anak memang membutuhkan usaha lebih dan kerja lebih keras. Berharap anak-anak juga butuh proses yang harus diselesaikan demi orang tua demi memenuhi kebutuhan anak. Hadirlah dalam hidup anak secara fisik maupun mental, ”kata Steinberg.

 

Beradaptasi

Setiap anak memiliki sifat yang berbeda-beda, begitupun kompilasi ia tumbuh dari bayi menjadi anak-anak kemudian beranjak remaja. Tentu saja orang tua harus memperhatikan cara mendidik anak yang sesuai dengan perkembangannya. Tidak mungkin remaja usia 13 tahun yang sama dengan anak usia 3 tahun, bukan?

 

Tetapkan dan disiplinkan aturan

Saat anak tidak berhak mencapai batas kompilasi lebih awal, maka akan sangat sulit menjadi pribadi yang menaati aturan kompilasi dewasa. Anak-anak akan lebih sulit untuk mendampinginya. Dengan kata lain, aturan yang ibu dan ayah buat akan menjadi nilai dan norma yang akan selalu dipegang anak, bahkan kompilasi ia sudah tidak lagi tinggal bersama orang tua.

Meskipun demikian, ada kalanya ibu harus memberi kebebasan pada anak untuk melakukan hal-hal yang disukainya. Di sekolah, misalnya, ibu tidak bisa mengeluarkan norma dan nilai rumah sehingga anak bisa saja tidak sesuai aturan yang berlaku di rumah.

“Menentukan batasan tertentu untuk anak, mengatur tentang kontrol diri, sedangkan menentukan kebebasan membantu anak mengembangkan kemandiriannya. Untuk bisa berhasil dalam hidup, anak harus menyeimbangkan sepenuhnya, ”kata Steinberg.

 

Biarkan anak mandiri

Pada suatu titik, anak ingin menjadi pribadi yang mandiri. Saat ini masih menunggu 4 tahun, misalnya, ia mungkin meminta untuk mandi sendiri, makan sendiri, atau membeli sepatu sendiri tanpa bantuan orang tua. Atau kompilasi remaja, ia tidak lagi ingin diantar orang tuanya ke sekolah dan memilih untuk naik kendaraan umum.

Sayangnya, banyak orang tua yang menganggap hal ini sebagai bentuk pembangkangan dan tidak gugur. Padahal, ini sebagian besar dari sifat alamiah manusia, yaitu ingin memiliki kontrol atas apa pun yang dilakukan oleh kegiatan yang terkait dengan orang lain, juga orang lain adalah orang tuanya sendiri.

 

Konsisten

Orang tua tidak sesuai aturan dengan disiplin tinggi dan konsistensi, maka aturan anak yang tidak sesuai ekspektasi adalah karena kesalahan orang tua, bukan anak itu sendiri. Ketika anak melihat aturan yang terapkan tidak konsisten, berbeda setiap hari, ia akan menjadi bingung dan lama-kelamaan dapat dipercaya juga.

Untuk mendisiplinkan cara mendidik anak yang baik, ibu perlu menentukan aturan mana yang tidak bisa dinegosiasikan dan berlaku menerapkannya. Misalnya, anak-anak hanya boleh  menonton televisi  setelah mengerjakan pekerjaan rumah, maka terus mengerjakan tugas itu. Sekali saja ibu memperbolehkan anak sebaliknya, maka ia akan meminta kembali hal yang sama di hari berikutnya, bahkan bisa meminta jika permintaannya tidak disetujui.

 

Jangan memukul

Seperti disetujui sebelumnya, berlaku pukulan salah satu cara mendidik anak-anak yang baik. Steinberg menjelaskan anak yang sering dipukul oleh orang tuanya akan menghabiskan ia menjadi anak yang suka berkelahi, suka merundung teman-teman, juga mengedepankan senjata sebagai solusi untuk setiap masalah.

“Ada banyak bukti yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat tantangan fisik akan tumbuh menjadi anak yang agresif yang kemudian juga suka menentang anak yang lain,” ujar Steinberg.

Daripada membantah anak, orang tua dapat memberlakukan  waktu keluar  sebagai cara mendidik anak yang baik jika ia terbukti melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Waktu keluar dapat membuat  banyak hal, seperti mendudukkannya di kursi atau diserahkan tergantung pada kamar dengan harapan anak akan merenungkan kesalahannya dan tidak mengulanginya di masa mendatang.

 

Jelaskan alasan di balik aturan yang dibuat orang tua

Setiap aturan yang dibuat oleh orang tua harus dapat dituliskan kepada anak-anak agar mereka dapat dipahami dengan benar pula. Nah, cara menjelaskan kepada anak juga harus disesuaikan dengan usianya ya, Bu. Kadang kala, anak yang lebih dewasa akan lebih mempertanyakan setiap keputusan atau larangan yang dibuat oleh orang tua terhadapnya sehingga ibu dan ayah juga harus bisa memastikannya setiap keputusan yang diambil orang tua memang demi anak itu sendiri.

 

sumber: https://www.ibupedia.com

Related posts